NATO Eropa Kirim Personel ke Greenland, Rusia dan China Disebut Ancaman
TIMES Australia/Pesawat angkut Airbus A400M milik Angkatan Udara Jerman melaju di atas landasan Pangkalan Udara Wunstorf di wilayah Hanover, Jerman, Kamis, 15 Januari 2026. (FOTO: Moritz Frankenberg/dpa via AP)

NATO Eropa Kirim Personel ke Greenland, Rusia dan China Disebut Ancaman

Kehadiran pasukan NATO diperkirakan meningkat dalam beberapa hari ke depan, termasuk melalui penerbangan dan kapal militer, dengan agenda utama berupa pelatihan.

TIMES Australia,Jumat 16 Januari 2026, 05:35 WIB
271.3K
W
Widodo Irianto

JAKARTAKehadiran personel militer Eropa di Greenland kian meningkat. Sejumlah negara Eropa anggota NATO mengumumkan pengerahan pasukan ke wilayah Arktik tersebut dengan dalih misi pengintaian. Menariknya, meski ketegangan politik mencuat antara Denmark dan Amerika Serikat terkait masa depan Greenland, sasaran pengawasan justru diarahkan kepada Rusia dan China.

Prancis, Swedia, Jerman, dan Norwegia menyatakan telah atau akan mengerahkan personel militernya ke Nuuk, ibu kota Greenland. Pengerahan ini disebut sebagai bagian dari misi pengintaian dan pelatihan bersama.

Kementerian Pertahanan Jerman pada Kamis menyebutkan bahwa misi pengintaian yang melibatkan beberapa anggota NATO Eropa bertujuan “menjajaki opsi untuk memastikan keamanan dalam menghadapi potensi ancaman Rusia dan China di kawasan Arktik.”

Wakil Perdana Menteri Greenland, Mute Egede, mengatakan kehadiran pasukan NATO diperkirakan meningkat dalam beberapa hari ke depan, termasuk melalui penerbangan dan kapal militer, dengan agenda utama berupa pelatihan.

Isu keamanan di Greenland kembali mengemuka seiring sikap Presiden AS Donald Trump yang berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih wilayah otonom milik Denmark tersebut. Trump berdalih Greenland memiliki arti strategis bagi keamanan nasional AS dan kerap menyebut Rusia serta China sebagai sumber ancaman di kawasan itu.

Pernyataan tersebut menuai reaksi keras dari Moskow. Pemerintah Rusia menolak tudingan Barat yang menyebut Rusia dan China mengancam Greenland. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menilai krisis Greenland justru mencerminkan inkonsistensi Barat dalam menerapkan apa yang mereka sebut sebagai tatanan dunia berbasis aturan.

“Pertama mereka mengemukakan gagasan tentang adanya agresor, lalu menyatakan siap melindungi pihak lain dari agresor tersebut,” ujar Zakharova. Rusia, kata dia, berdiri sejalan dengan posisi China yang menolak penggunaan isu aktivitas Rusia dan China di sekitar Greenland sebagai dalih eskalasi.

Pertemuan AS - Denmark

Sementara itu, tim yang melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio bertemu dengan pejabat Denmark dan Greenland di Washington. Pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan mendasar mengenai masa depan pulau kaya mineral itu.

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menegaskan bahwa pengambilalihan Greenland oleh AS “sama sekali tidak diperlukan,” seraya mengakui masih adanya perbedaan mendasar dengan Washington. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Widodo Irianto
|
Editor:Wahyu Nurdiyanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Australia, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.